Kamis, 04 November 2010

Melatih Kreativitas Melalui Scrapbooking

KOMPAS.com - Meski sudah diterima baik, Indonesia cukup tertinggal dalam mempopulerkan hobi scrapbook, dibanding Singapura misalnya. Padahal scrapbooking punya banyak nilai positif bagi anak. Seperti melatih keterampilan motorik halus, melatih kesabaran, mendorong kemampuan berkreasi, belajar mengungkapkan sebuah cerita.
Scrapbooking yang kegiatan pokonya adalah menyusun foto atau barang atau tulisan dalam sebuah album, bisa menjadi aktivitas bersama yang menyenangkan untuk ibu dan anak. Manfaat yang didapatkan kaum ibu umumya menciptakan karya memorabilia bernilai sejarah keluarga. Karya scrapbook kalangan ibu menjadi warisan dari kisah seru di keluarga yang bisa bertahan ratusan tahun lamanya.
“Keterampilan motorik anak bisa dilatih karena mereka diajarkan mengunting, menjiplak dan keterampilan tangan lainnya. Anak juga mulai membiasakan diri dengan komposisi warna dan corak yang nantinya bisa dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari,” papar Ina Himawan, pendiri kelas hobi scrapbook, My Scrapbook Ideas (MSI) kepada Kompas Female.
Kemampuan bercerita bisa berkembang dalam diri anak melalui kegiatan scrapbooking. Karena aktivitas ini membiasakan anak membuat jurnal dalam kreasinya.
Menurut Ina, hobi ini terus berkembang di Indonesia. MSI sendiri saat ini mempunyai sekitar  2000 konsumen. Sejak 2007 membuka workshop scrapbook sekaligus menyediakan kebutuhan aktivitas scrapbooking, MSI menjaring semakin banyak penggemar.
“Penggemar scrapbook kebanyakan memang ibu muda kisaran usia 25 hingga 40 tahun. Namun banyak juga anak dan remaja. Sebanyak 99 persen penggemar hobi ini memang perempuan. Para suami umumnya memberikan dukungan, karena kegiatan ini bersifat positif, kreatif dan menghasilkan karya yang bisa diwariskan,” ujar Ina.
Ina menjelaskan, terdapat perbedaan antara kaum ibu dengan anak dan remaja. Umumnya, ibu dari segmen menengah atas ini, menggunakan material asli untuk hobi scrapbook. Sedangkan kalangan anak dan remaja biasanya menggunakan barang lokal. Lebih jelasnya menggunakan kertas yang tidak acid dan lignin free. Akibatnya kertas mudah menguning dan tidak tahan lama.
Hobi yang bisa dipelajari ini tak sekadar mengisi waktu luang. Menurut ini, jumlah scrapbooker Indonesia cukup banyak. Umumnya mereka mempromosikan kegiatan scrapbooking mereka melalui blog dan website.
“Hobi scrapbooking ini bahkan bisa dijadikan mata pencaharian. Sudah banyak scrapbooker yang bisa mendapatkan income dari hobi ini, dengan menjalankan bisnis,” ungkap Ina.
MSI menjadi salah satu contoh bisnis scrapbook yang sukses, dengan membuka kelas scrapbook sekaligus menjual kebutuhan hobi. Kelas workshop memang tepat menjadi titik awal mengenal scrapbook jika Anda berminat.
MSI, misalnya, membuka kelas untuk empat hingga enam peserta. Jumlah ini cukup efektif mengingat adanya keterbatasan tempat. Sebaiknya jika Anda berniat mengikuti kelas scrapbooking, pastikan jumlah peserta tidak melebihi 20 orang.
Tertarik mengajak keluarga berkreasi sekaligus menggali potensi? siapa tahu Anda atau anak Anda berbakat menjadi scrapbooker.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar